Tidak Banyak yang Tahu, Uniska Sudah Melakukan Pertukaran Mahasiswa Empat Kali

Lentera Uniska, Banjarmasin – Universitas Islam Kalimantan (Uniska) Muhammad Arsyad Al Banjari (MAB) kembali berpartisipasi dalam program pertukaran mahasiswa yang di selenggarakan oleh Southeast Asian Ministers of Education Organization (SEAMEO).

Bukan kali pertama, tercatat sudah empat kali Uniska mengikuti pertukaran mahasiswa guna meningkatkan akreditasi kampus serta pengalaman mahasiswa.

Ada lima negara yang menjadi target saling tukar mahasiswa yaitu Filipina, Malaysia, Vietnam, Indonesia dan Thailand.

Tahun ini, seleksi tingkat Universitas dilakukan pada Selasa, 29 Maret lalu. Pertukaran akan dilakukan selama satu bulan penuh pada bulan Mei hingga Juni dan biaya di tanggung oleh pihak kampus pengirim dan penerima.

Setidaknya, ada 10 mahasiswa yang lolos dari seleksi tingkat Universitas, yakni Didi Irawan dan Fikri Anshari dari FEKON, Aris Setiawan Bara dan Aqsal Arya dari FTI, GT. Surya Permana dan Gangga Cahyo Utomo dari FATEK, Widiawati dan Ahmad Asrori dari FAPERTA. Terakhir, Annida dan Fahrina Nurhalizah dari FARMASI.

Adapun mahasiswa yang terpilih sebagai teman mahasiswa asing nanti Rezki Indalesari dan M Fauzal dari FEKON, M Habibi dan Wulan Aisyah dari FTI, Kuluh Adi S dan Ahdyat F dari FATEK, Fidia Noor Zuyyina dan Dewi Try Setiawati dari FAPERTA, Rizqy Noor Maulida dan Trisna Wira dari FARMASI.

Terkait syarat sendiri, yang utama bisa berbahasa inggris dan fasih dengan ditunjang IPK lebih dari 3. Menurut Ratna, Kepala Bagian Pusat Bahasa, tahap persiapan sudah sampai tahap seleksi tingkat Internasional yang akan diadakan beberapa minggu lagi.

“Tapi persyaratannya harus mengisi formulir dulu,” jelasnya kepada Lentera, Rabu (6/3) lalu.

Sebelumnya, setiap fakultas diminta untuk mengirim lima orang sebagai perwakilan dari fakultas. Usai seleksi, terpilihlah 10 mahasiswa yang sudah disebutkan diatas.

Aqsal Arya, salah satu mahasiswa yang lolos pada tahap seleksi kampus mengatakan, ia mengikuti ini karena menyukai bahasa inggris dan ingin memperdalam lagi.

“Bisa menambah wawasan tentang budaya asing,” katanya.

Aqsal turut berharap agar Uniska selalu mengadakan pertukaran mahasiswa. Namun nahas, kampus kurang memberikan sosialisasi kepada mahasiswa adanya program ini sehingga banyak yang belum tahu. (Cbr/Gpe)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.