Gelar Seminar Nasional, LPM Warta Jitu Berharap Persma Tidak Mati Termakan Jaman

Lentera Uniska, Banjarmasin – Sabtu (30/7) Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Warta Jitu Universitas Lambung Mangkurat (ULM) sampai di acara seminar nasional perdana secara luar jaringan (luring) bertema R.I.P Journalism: Welcome to the Era of Content Marketing di Aula Kayuh Baimbai Pemerintah Kota Banjarmasin.

Seminar ini merupakan rangkaian HUT ke-7 LPM Warta Jitu Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) dari ULM yang dibuka pada Sabtu, 16 Juli lalu.

Diisi oleh pembicara handal yakni Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Biro Banjarmasin, Fariz Fadhillah dengan topik ‘Melemahnya Eksistensi Jurnalisme di Indonesia’.

Kemudian Budi Kurniawan Pendiri Tabloid Mahasiswa INTR-O FISIP ULM dan Lembaga Penerbitan Mahasiswa Kinday ULM yang membawakan tentang ‘Reposisi Persma ditengah Melemahnya Eksistensi Jurnalisme’.

Tujuan seminar nasional ini adalah ingin merubah suasana baru yang saat ini kebanyakan hanyalah Webinar.

“Diangkatnya tema tersebut agar meningkatkan kesadaran kita juga tentang jurnalisme,” jelas Ketua Pelaksana seminar, Muhammad Ridhoni.

Dalam materi yang disampaikannya, Fariz Fadhillah menggarisbawahi pembuat berita sudah jarang menggunakan Piramida terbalik dan sering menggunakan kata sifat.

Fariz juga berharap agar para jurnalis bisa tetap kritis dan tetap memperhatikan etika jurnalistik dalam berjejaring.

“Semoga yang muda bisa mengkritik yang lebih tua, dengan begitu dia melampaui seniornya agar bisa berkembang lebih lagi, ” ungkapnya.

Sedangkan disisi Persma yang disampaikan Budi Kurniawan, harus ada pelindung atau payung hukum agar jika terjadi sesuatu bisa dengan mudah diatasi.

“Persma harus percaya diri karena yang menentukan Persma itu ya Persma itu sendiri sehingga perlu komunikasi, silaturahmi antar pers,” ujar Budi.

Selain itu, ia juga mengatakan bahwa seorang Persma harus berkembang mengikuti jaman. Budi memberi tiga poin penting seorang jurnalis:

  1. Memandang narasumber sebagai sumber berita
  2. Tulisan yang baik banyak pembaca
  3. Nama adalah harga diri

“Bahwa tidak ada penulis tanpa membaca dan bangsa perlu pemuda yang kritis,” pungkasnya. (Jtp/Cga)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.