Usai Aksi Ricuh, BEM se-Kalsel Berhasil Masuk Rumah Banjar untuk Dialog

Usai Aksi Ricuh, BEM se-Kalsel Berhasil Masuk Rumah Banjar
Dialog massa aksi di dalam Rumah Banjar.

LENTERAUNISKA.ID, BANJARMASIN –Aksi penolakan wacana Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) melalui DPRD yang sempat berujung ricuh akhirnya berujung mediasi. Setelah hampir tiga jam menunggu, massa aksi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Kalimantan Selatan akhirnya diperbolehkan memasuki Rumah Banjar untuk berdialog dengan perwakilan DPRD, Kamis (15/1/2026).

Mediasi tersebut difasilitasi oleh Wakil Ketua Komisi III DPRD Kalimantan Selatan, H. Muhammad Rosehan Noor Bahri .

Namun DPRD tidak mengizinkan massa aksi memasuki Rumah Banjar.

Setelah dilakukan komunikasi langsung melalui dengan Ketua DPRD Supian HK, massa aksi akhirnya diperbolehkan masuk untuk berdialog sekitar pukul 17.20 WITA.

Meski demikian, Ketua DPRD Supian HK berhalangan hadir sehingga tidak dapat mendengarkan secara langsung poin tuntutan mahasiswa. Ketidakhadiran tersebut memicu kekecewaan massa aksi.

Dalam dialog tersebut, mahasiswa menyampaikan penolakan terhadap wacana Pilkada melalui DPRD dan menuntut agar Pilkada tetap dilaksanakan secara langsung oleh rakyat sesuai prinsip demokrasi.

Menanggapi tuntutan mahasiswa terkait penolakan Pilkada melalui DPRD, Rosehan menyatakan,

“Memang biaya pilkada langsung itu mahal, tetapi kalau diawasi KPU, diawasi Bawaslu, diawasi aparat, mudah-mudahan pilkada langsung itu tetap dilaksanakan,” ucap Rosehan.

Setelah lama berdialog Presiden Mahasiswa UMB, Irfan Naufal, menyampaikan bahwa dialog tersebut tidak membuahkan hasil dan berencana menggelar aksi lanjutan atau aksi jilid II.

Menanggapi rencana tersebut, Rosehan menyampaikan bahwa pada rentang tanggal 14-21 Januari 2026 pihak DPRD memiliki agenda menemui konstituen.

“Dari tanggal 14 sampai tanggal 21 pada masa itu ada kewajiban dari kami untuk ketemu konstituen, oleh sebab itu saya tidak bisa mengambil sikap yang lebih panjang lagi,” ucap Rosehan.

Waktu pelaksanaan aksi jilid II belum ditentukan dan akan diputuskan melalui konsolidasi akbar, dengan harapan Ketua DPRD Supian HK dapat hadir secara langsung.

M. Irfan Naufal selaku Presiden Mahasiswa UMB menyampaikan bahwa dialog yang berlangsung tidak membuahkan hasil apa pun.

Ia juga mengungkapkan adanya mahasiswa yang menjadi korban hingga harus mendapatkan perawatan di rumah sakit serta menuntut pihak kepolisian untuk menindaklanjuti insiden tersebut.

“Dan juga kami melihat adanya tindakan represif aparat kepolisian yang mengakibatkan dua orang kawan kami harus dirawat di rumah sakit, dengan satu orang mengalami luka di bagian hidung hingga berdarah serta satu orang lainnya mengalami lebam di bagian kaki dan lain-lain,” ungkap Irfan Naufal.

Editor: Eka Nurrisma

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *