
LENTERAUNISKA.ID, BANJARMASIN – Misi Artemis II yang dijalankan oleh NASA menjadi tonggak penting dalam eksplorasi luar angkasa modern. Misi ini menandai kembalinya manusia ke orbit Bulan setelah lebih dari lima dekade sejak Apollo 17, sekaligus membuka jalan bagi rencana pendaratan manusia di masa mendatang.
Dilansir dari Associated Press, misi ini menggunakan roket Space Launch System dan kapsul Orion spacecraft dengan membawa empat astronaut, yakni Reid Wiseman, Victor Glover, Christina Koch, serta Jeremy Hansen. Dalam konferensi pers usai misi, para kru menekankan bahwa keberhasilan Artemis II merupakan hasil kerja kolektif, bukan sekadar pencapaian individu.
Selama menjalankan misi, kapsul Orion mengelilingi Bulan melalui manuver flyby sambil menguji berbagai sistem penting, termasuk navigasi, komunikasi jarak jauh, serta pendukung kehidupan. Kru melaporkan bahwa performa wahana berjalan melampaui ekspektasi, meskipun terdapat kendala teknis ringan seperti gangguan pada sistem tekanan dan saluran pembuangan yang tidak memengaruhi keselamatan misi secara keseluruhan.
Dalam konferensi pers yang sama, Christina Koch menggambarkan pengalamannya melihat Bumi dari luar angkasa, seperti sebuah kapal besar yang mengapung di tengah gelapnya luar angkasa.
“seperti kapal yang mengapung di tengah kegelapan”, Christina Koch dalam konferensi pers.
Hal tersebut mencerminkan perspektif baru tentang posisi manusia di alam semesta, dilansir dari tayangan yang diunggah melalui kanal YouTube Associated Press, para astronaut juga mengungkapkan bahwa meskipun sempat terisolasi selama misi, mereka merasa terhubung kembali saat mengetahui dampak luas perjalanan ini dalam menginspirasi masyarakat, khususnya generasi muda.
Keberhasilan Artemis II menjadi fondasi penting dalam program Artemis, tidak hanya sebagai uji coba teknologi, tetapi juga sebagai langkah awal menuju misi pendaratan manusia di Bulan serta rencana eksplorasi jangka panjang di luar Bumi.
