
LENTERAUNISKA.ID, BANJARMASIN –
Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) Universitas Islam Kalimantan (Uniska) Muhammad Arsyad Al-Banjari (MAB) menggelar kegiatan bertajuk “Diskusi & Nobar Film Pesta Babi” yang berlangsung di lapangan Uniska pada Kamis, 14 Mei 2026.
Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh kontroversi film Pesta Babi di Indonesia, sekaligus menjadi ruang diskusi bagi mahasiswa dan masyarakat umum terkait dampak proyek strategis pemerintah terhadap masyarakat Papua, khususnya masyarakat adat.
Antusiasme peserta terlihat tinggi, baik dari kalangan mahasiswa maupun masyarakat umum.
Jumlah peserta yang membludak bahkan sempat menyebabkan perpindahan lokasi kegiatan karena keterbatasan kapasitas ruang.
Acara ini menghadirkan tiga narasumber, dua di antaranya merupakan penduduk lokal Papua. Kegiatan diawali dengan pemutaran film yang berlangsung dengan lancar.
Namun, di pertengahan pemutaran film terjadi pemadaman listrik yang menyebabkan film terhenti dan lampu di sekitar lokasi ikut padam selama kurang lebih lima menit.
Muhammad Riandra selaku Ketua MPM Uniska menilai adanya kejanggalan dalam peristiwa tersebut.
“Sewaktu perkuliahan berlangsung AC dan lampu lampu ful nyala aman aman aja, tapi ketika sekarang sound sistem dan segala macam malah mati kan janggal, sempat konfirmasi sama satpam katanya jegleg”. Ucapnya
Setelah listrik kembali menyala, pemutaran film dilanjutkan hingga selesai dan kegiatan diteruskan dengan sesi diskusi bersama para narasumber.
Salah satu hal yang menarik perhatian dalam film ini adalah kemunculan logo salib merah, yang dimaknai sebagai simbol perlawanan sekaligus duka masyarakat Papua yang terdampak langsung oleh proyek strategis nasional pemerintah.
Paulus Blesia, salah satu narasumber sekaligus penduduk lokal Papua, menyampaikan bahwa film Pesta Babi sangat relevan dengan kondisi yang terjadi di Papua saat ini.
“Sangat relate sekali karna benar benar kejadian real yang terjadi di masyarakat adat Papua itu sendiri”. Ungkap nya.
Film Pesta Babi sendiri telah diputar di berbagai wilayah dan provinsi sebagai upaya meningkatkan kesadaran publik terhadap kondisi masyarakat Papua. Meskipun sempat terkendala teknis akibat pemadaman listrik di tengah kegiatan, acara tetap berlangsung hingga selesai dengan antusiasme tinggi dari para peserta.
Editor : Eka Nurrisma
