Mosi Tidak Percaya untuk Ketua DPRD Kalsel

Aksi #SaveKPK jilid III di Jalan Lambung Mangkurat, Kota Banjarmasin.

Lentera Uniska, Banjarmasin – Sikap Mosi Tidak Percaya dari mahasiswa terhadap Ketua DPRD Provinsi Kalimantan Selatan Supian HK, menjadi akhir dari aksi #SaveKPK jilid III, Kamis (01/07).

Mahasiswa mengaku sangat kecewa terhadap pimpinan wakil rakyat tersebut. Pasalnya, hingga aksi ketiga ini, Supian HK tak kunjung terlihat di tengah-tengah mahasiswa.

Koordinator Wilayah BEM se-Kalsel Ahmad Rinaldi menegaskan pihaknya sudah menyatakan sikap Mosi Tidak Percaya terhadap Supian HK.

“Kami tidak akan bertemu dan tidak mempercayai lagi apapun perkataan bapak Supian HK. Kecuali bapak yang langsung berangkat ke sana (Jakarta) menyampaikan tuntutan mahasiswa ke Presiden Joko Widodo,” tegasnya.

BEM se-Kalsel mengaku sudah melakukan konsolidasi bersama seluruh BEM se-Indonesia. Dia berjanji bakal membawa tuntutan yang masih belum diselesaikan oleh Ketua DPRD Kalsel ke tingkat nasional.

Di samping menyatakan mosi tidak percaya kepada Ketua DPRD Kalsel, para demonstran juga mengecam dugaan tindakan represif yang dilakukan polisi saat aksi #SaveKPK jilid II lalu.

Di tengah aksi berlangsung, demonstran bahkan memberikan kartu merah kepada aparat kepolisian. Menurut mereka, kartu merah ini menjadi “kado ulang tahun” tepat di Hari Bhayangkara ke-75.

Unjuk rasa kali ini juga sempat kembali pecah. Bentrokan antara demonstran dengan aparat kepolisian tak bisa terhindarkan.

Ketegangan dipicu saat para demonstran memaksa masuk ke Gedung DPRD Kalsel, namun dihadang barikade aparat bersenjata. Pasalnya, Ketua DPRD Kalsel yang ditunggu-tunggu massa tak kunjung terlihat batang hidungnya.

Alhasil, bentrokan terjadi. Demonstran dengan polisi terlibat aksi saling dorong. Beberapa dari polisi terlihat harus menggunakan pentungan untuk menghalau massa. Botol-botol pun ikut berterbangan dari arah demonstran

Akibatnya, beberapa demonstran harus menjalani perawatan lantaran mengalami luka-luka. Ada juga yang sempat diamankan polisi lantaran dianggap provokator, sebelum dikembalikan ke para demonstran. (Tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.